-->

Penerapan Teori dan Strategi Pembangunan dari Luar Negeri

Penerapan Teori dan Strategi Pembangunan dari Luar Negeri

Dunia.Com - Dibidang pembangunan terdapat masalah yang berkaitan dengan konsep dan teori pembangunan. Ada ba­nyak dana variasi definisi tentang ” pembangunan “, sebagaimana terdapat dalam berbagai literature.  ( bryant and White, 1982 ), namun masalah yang paling populer adalah suatu proses perubahan yang dirancang secara sistematis untuk mewujudkan suatu kondisi yang lebih baik. Kata kunci dalam devinisi ini adalah kondisi yang lebih baik. Pertanyaan yang sering muncul adalah baik menurut siapa ? dan rancangan atau strategi manakah yang terunggul  dalam mewujudkan kondisi yang lebih baik tersebut ?
Pertanyaan tersebut dapat dijawab menurut beberapa paradigma penting menurut paradigma Modernisasi, yang baik adalah yang sesuai dengan apa yang dimiliki Negara – Negara Barat yang telah modern. Gaya hidup orang barat yang begitu modern, nilai – nilai serta norma – norma yan berlaku disana sebaliknya diadopsi oleh Negara – Negara sedang berkembang yan ingin membangun.  Pengalaman mereka dalam membangun dengan menggunakan prinsip – prinsip ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan melalui industrialisasi, dan dengan tahapan tertentu harus ditiru Negara – Negara sedang berkembang.
Nasihat , saran dan ajakan mengikuti cara barat tersebut telah diadopsi oleh beberapa Negara sedang berkembang, tetapi hasilnya justru tidak sebagaimana yang diharapkan, sementara ajakan yang dilakukan untuk meniru Negara – Negara barat tersebut dikritik kaum liberal sebagai upaya “ westrnisasi “ semata, dan cenderung “ etnosntrik “. Oleh karena itu, bank dunia menyarankan untuk  memberiksn perhatian kepada masalah -  masalah riil yang dihadapi oleh Negara – Negara sedang berkembang, dengan upaya mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi ketimpangan, menegakkan HAM, mengupayakan suatu “ restribution with growth “ , memenuhi kebutuhan dasar manusia, dan pembangunan pedesaan yang terintegratif. Semua yang disebutkan ini disebut paradigm yang kemudian disebut paradigm Liberalis.
Meskipun apa yang disarankan Bank Dunia ini lebih riil dan sesuai denga kondisi Negara sedang berkembang  pada umunya, namun segelincir pakar yang tergolong dalam paradigma “ political ekonomi “, yang tergabung dalam teori  dependency, mencoba melihat implikasi dari pemberian bantuan kepada Negara – Negara sedang berkembang, baik dalam bentuk modal, teknologi dan konsultan.  Menurut mereka pemberian bantuan tersebut telah membuat hampir  semua Negara sedang berkembang menjadi semakin  beruntung, terjebak dalam ketertinggalan sehingga tidak  mungkin memiliki peluang untuk mejadi Negara yang sejajar dengan Negara – Negara pemberi bantuan. Bantuan tersebut telah menciptakan “ the development of underdevelopment “ dimana dominasi terhadap Negara – Negara pinggiran ( terbelakang ) terus berlangsung dan membuat Negara – Negara tersebut menjadi  terbelakang.  Oleh karena itu, perlu dihilangkan hubungan tersebut ) delink )dan mulai memupuk kekuatan menuju kemandirian ( self sufficiency ). Disini dapat dilihat bahwa yang baik adalah kalau berada dalam kondisi tidak tergantung, tidak didikte pihak luar, memiliki kemandirian dan mencukupi kebutuhan diri sendiri.bila hubungan denga pihak luar tersebut terus merugikan  maka refolusi social perlu dilakukan. Aliran Neo – Marxist memberikan kritikan tambahan dalam paradigma ini yaitu bahwa sesungguhnya pembangunan dapat terjadi di Negara – Negara terbelakang, tetapi terbatas hanya pada kelas – kelas burjuis dan kroni – kroni mereka.
Tokoh – tokoh yang tergabung dalam parasigma Neo- Populis mencaoba meminta perhatian dengan memberi tekanan pada nilai keadilan ( equity ), yaitu mengutamakan upaya untuk mendukung “ small scale enterprises “ petani – petani miskin, sector informal, pedesaan dan kota kecil. Yang baik menurut paradigma ini adalah memperhatikan nasib mereka yang bekerja pada kegiatan ekonomi berskala kecil.
Meskipun telah terjadi upaya negara – negara sedang berkembang dalam memperhatikan ajakan sebagaiparadigma pembangunan diatas, namun sekelompok cendekiawan pembangunan termasuk LSM melihat keberhasilan pembangunan sangat tidak memuaskan. Pembangunan justru telah menimbulkan krisis dimana – mana, enderung mengarah pada “ consunption “ dan “ accumulation “, bahkan ada yang menilai pembangunan sebagai “ a concept of no content “, yang hanya berfungsi melegitimasi intervensi pemerintah dalam melakukan rencana dan implementasi semata. Ada yan lebih keras lagi mengkritik pembangunan sebagai “ a distrousnation “ atau ide yang merusak.
Kenyataan pahit dari pengalaman pembangunan diatas telah menunjukan bahwa pembangunan mengarah kepada hal – hal yang negative, atau dengan kata lain bias membawa keuntungan ( contoh pengalaman Taiwan dan korea selatan ) tetapi juga bisa membawa kerugian ( contoh negara sedang berkembang kainnya di asia, afrika dan amerika latin ). Ahli pembangunan Denns Goulet mengingatkan kepada kita bahwa pepbangunan bisa membawa keuntungan dan juga bisa membawa kerugian dan konflik. Keuntungan – keuntungan yang dapat dinikmati antara lain pembangunan telah meringankan beban fisik kita, menciptakan spesiallisasi kelembagaan, kebebasan dan keleluasan untuk memilih, dan interpendensi serta toleransi. Kerugiannya adalah kaum miskin tetap miskin bahkan bertambah miskin, menimbalkan krisis lingkungan, perang dan konflik , mengurangi hubungan yang harmonis antar negara, pengrusakan budaya masyarakat local, dan menimbulkan orientasi individu yang sempit serta ketidak berdayaan.
David Corten memunculkan suatu ide tentang pembangunan yang “ people contered “ dimana semua upaya pembangunan hendaknya menyentuh aspek – aspek manusia, membuat manusia  menjadi subjek pembangunan yang tangguh dan berkualitas tinggi. Strategi yang digunakan untuk mencapai nilai ini adalah melalui “ Capacity Building “ yaitu meningkatkan kemampuan SDM. Kelembagaan dan jaringan. Denga kata lain, kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan dimana manusia memiliki kemampuan yang tinggi untuk memutuskan nilai – nila yang dibutuhkan dan membuat prioritas, serta mampu mengorganisir dirinya mewujudkan nilai dan prioritas tersebut. Ide terebut menjadi topic yang sangat populer selama tahun 1990 –an sampai sekarang.
Oleh karena demikian perilaku manusia dalam mengembangkan kemampuan sangat tergantung kepada lingkungan yang sering kali membelenggunya dan ancaman dari pihak lainyang mengganggunya maka Amaty Sen ( 1999 ) berpendapat  bahwa manusia harus mrndapatkan kmerdekaannya kembali biak dalam pembentukan tujuan pembangunan maupun dalam cara penyaampaian tujuan tersebut. Ide ini tentu mempromosikan apa yang disebut sebagai “ freedom – contered “ development, yang tentunya menggambarkan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan dimana terdapat kemerdekaan berpolitik, akses terbuka terhadap fasilitas ekonomi, peluang social, jaminan keamanan dan tujuan transparasi.
Dalam pengalaman negara sedang berkembang pada umumnya dan Indonesia pada khususnya , telah dikenal berbagai strategi pembangunan antaara lain, strategi pertumbuhan, stabilitas, dan pemberdayaan. Dalam pelaksanaannya, strategi – strategi ini dikombinasikan secara bersamaa dimasing – masing strategi diberi porsi anggaran sendiri sesuai dengan tingkat urgensi dan urutan pentingnya.
Pengalaman menunjukan bahwa tekanan yang terlalu berlebihan kepada stabilitas danpertumbuhan telah membuat Indonesia sangat gagal dalam mencapai tujuan pembangunanya. Pertumbuhan yang terjadi tidak membawa “ trickle down effect “ kepada penduduk dan masyarakat banyak karena penggunaan teknologi yang “ capital itensiven” atau padat modal, sementara penduduk Indonesia yang mencari pekerjaan dengan kualifikasi pendidikan yang rendah, dengan demikian, pertumbuhan  yang tinggi yang dicapai oleh Indonesia tidak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat banyak. Kegiatan pembangunan yang berdifat “ labor intensive “ atau pada karya atau tenaga kerja manusia sangat tepat diterapkan.
Strategi pembangunan yang mengarah pada pertumbuhan ini disamping, tidak membarikan pemerataan kesejahteraan melalui tetesan kebawah, juga menimbulkan “ instabilitas ”   ,  yang berarti bertentangan dengan strategi stabilitas dan pemerataan. Kegagaln  ini telah dirasakan saat ini, terutama beberapa daerah yang telah menyatakan ketidakpuasannya dan ingin berpisah dari negara ini karena kesejahteraan penduduknya tetap rendah sementara pertumbuhana yang dialami daerahnya cukup atau sangat tinggi. Semantara itu orientasi kepada pertumbuhan telah mengorbankan lingkungan Indonesia yang selama ini diakui pentignya oleh dunia seperti penebangan hutan dikalimantan, Sumatra dan papua, semsntara industrialisasi yang diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan telah banyak mendatangkan gangguan lingkungan bagi masyarakat yang tidak ikut menikmati hasil industrialisasi tesrsebut. ( eksternslitis ).
Kritikan lainnya ditujukan kepada strategi pertumbuhan dan pemerataan serta stabilitas yang telah membuat Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki utang terbesar. Ironisnya, semakin banyak utang yang dipinjam untuk memberantas kemiskinan, jumlah orang miskin justru semakin banyak. Kenyataan ini menunjukan bahea kita miskin bukan kerana kurang uang, tetapi manajemennya yang keliru. Meskipun banyak kalangan menggagas bahwa sebaiknya Indonesia berhenti meminjam uang, namun posisi Indonesia telah telanjur berada dalam jeratan utang dimana ia harus meminjam untuk kemudian digunakan untuk membayar utangnya. Dengan kondisi seperti ini, masa depan generasi mendatang telah menjasi sangat suram.
Berbagai saran bermunculan dalam agenda pembangunan nasional yang meminta perhatian pemerintah untuk lebih menekankan pembangunan kualitas manusia dan pemberdayaan masyarakat.

LihatTutupKomentar