-->

Ciri Masyarakat Prismatik Menurut Fred W Riggs

FW Riggs

Dunia.Com - Ciri Mayarakat Prismatik menurut FW Riggs adalah Heteregonitas, Formalisme, Tindan ( overlapping ). masyarakat Prismatik adalah sebutan untuk masyarakat negara yang sedang berkembang atau masyarakat yang sedang berubah /bergeser / berproses dari model masyarakaat tradisional ke model masyarakat Modern.


1. Ciri masyarakat Prismatik : 

1.      Heteregonitas : Salah satu ciri masyarakat prismatik ialah tingkat heteregonitas yang tinggi. Dengan heteregonitas dimaksudkan suatu campuran sifat – sifat masyarakat tradisional ( fused society ) dan masyarakat modern ( refracted society ). Dalam peerwujudan riilnya dijumpai antara lain kota – kota modern dengan golongan cerdik cendekiawan yang hebat – hebat, kantor – kantor gaya barat, dan sarana – sarana administrasi modern berada ditengah – tengah daerah pedesaan dengan penduduknya yang sebagian masih buta aksara diperintah oleh kepala – kepala rakyat atau orang “ tua – tua “ dimana peran mereak dibidang politik, administrasi, keamanan dan sosial  belum dideferensiasikan dan bercorak tradisional.
2.      Formalisme : ciri atau sifat yang kedua dari masyarakat prismatik adalah tingkat formalitas yang tinggi . formalisme dapat diartikan ssebagai tingkat ketidaksesuaian ( discerapancy ) atau tingkat kongruensi ( congruence ) antara yang telah dituliskan ssebelumnya secara formal dengan apa yang dipraktekan atau ditiadakan secara riiel, antara norma – norma dan kenyataan atau realita. Semakin besar konggruensi keadaan semakin tidak realistis, semakin besar ketidaksesuaian semakin lebih formalitas.
3.      Tindakan : ( overlapping ). Didalam masyarakat prismatik trdapat tindan yang banyak, artinya struktur – struktur yang telah dideferensiasikan secara formal ada berdampingan dengan dtruktur – struktur yang belum dideferensiasikan. Dengan perkataan lain di dalam prismatik society telah disusun struktur baru, seperti misalnya dinas – dinas pemerintahan, dewan – dewan perwakilan rakyat, pemilihan umum, pasar – pasar, sekolah – sekolah dan sebagainya, tetapi fungsi – fungsi administrasi , politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya sampai tingkat tertntu tetap dijalankan oleh struktur lama yang belum dideferensiasikan, seperti keluarga, badan – badan keamanan, dan kelompok – kelompok masyarakat tertentu lainnya

2. Model SALA

 Nama SALA sebagai sebutan administrasi Negara pada Negara – Negara atau masyarakat yang sedang berkembang ( prismatik Society ), diambil dari nama sebuah bagian bangunan rumah tinggal yang ditemukan di daerah Amerika Selatan. Bangunan ini agak terpisah dari tumah induk ttapi tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan atau tetap masih menyatu dan ada fasilitas penghubungnya.

3. Ciri karakteristik SALA sebagai Model Sistem Administrasi Negara Dalam Masyarakat Prismatik

1.    Heterogenitas ( heterogenity ) kesehatan

Fungsi administrasi kekeluargaan dengan struktur jabatan baru. Fungsi – fungsi administrasi yang semula dilaksanakan atas dasar hubungan kekeluargaan tetap dilanjutkan tetapi secara sembunyi – sembunyi, sementara itu disusun struktur jabatan kantor yang baru guna menggantikan organisasi atas dasar  kekeluargaan tadi dan selanjutnya sebagai pantas – pantas disiapkan sperangkat norma untuk dipatuhi ( walaupun nyatanya norma itu diabaikan ).

2.    Nepotisme ( nepotism )

Universalitik dengan hubungan kekerabatan. Dalam masyarakat tradisional jelas – jelas keluaga merupakan landasan bagi pemerintahan dan administrasi Negara, dan wajar apaabaila jabatan – jabatan dalam administrasi Negara disediakan bagi anggota keluarga ( nepotisme ).
Dalam masyarakat yang sedang berkembang ( prismatic sosciety ), sering terdapat seorang presiden atau perdana menteri yang dipilih,tetapi menyerahkan kedudukannya kepada anak, menantu, kemenakan atau keluarga dekatnya , yang sseharusnya kedudukan tersebut digantikan oleh sseseorang melalui pemilihan. Jabatan – jabatan dalam administrasi Negara dijabat oleh orang – orang atas dasar norma yang bersifat universalistik, tetapi nyatanya diam – diam diisi oleh orang – orang yang punya hubungan kekerabatan. Hal – hal yang demikian ini menjadi salah satu ciri dalm pengadaan pegaawai dari model sala.

3.    Tindakan ( Overlapping ).

Antara pekerjaan kantor dengan urusan keluarga. Pengaruh keluarga atau kerabat mengatasi pelaksanaan fungsi Dinas / kantor sedemikian rupa sehingga peraturan / hukum dilaksanakan seenaknya terhadap pihak – pihak diluar kerabat. Hal ini berlaku juga terhadap pelaksanaan kontrak, pembelian perbekalan, pengadaan barang, pembayaran pajak, pemeabrian liisensi, pemberian ijin dan lain sebagainnya.
Bagi pihak luar pegawa – pegawai dari model sala ini nampak bersifat individualistik, karena mereka menilai keperntinggan keluarga lebih tinggi daaripada kepentingan dinas, pemerintah, kadang – kadang bahkan kepenntingan Negara

4.    Poly communal // plural community.

Mobilitas cukup tinggi tetapi tingkaat asimilasi rendah. Pengelompokan atas dasar keluarga menumbuhkan solidaritas kelompok. Dalam Negara berkembang solidaritas kelompok didapat atas dasar etnis,agama, ras yang bersifat mobil karena faktor komunikasi yang yang relatif baik, tetapi belum trcapai asimilasi dengan penguasa ( elit ) karena sebagian dari anggota kelompok masih buta aksara, srhingga melahirkan beberapa kelompok masyarakat ( communities ) tertentu.

5.    Clect yang mencakup klik, klub, dan sekte ( clicques,club,sects ).

Orgsnisasi primer / tradisional dikelola secara modern atau sebaliknya. Clect dapat didefinisikan sebagai suatu organisasi yang memiliki fungsi – fungsi secara relatif bercampur baur bersifat semi tradisional, tetapi diorganisir secara asosiasional modern.
Sekte oposisi dari partai – partai politik dan gerakan dallam masyarakat prismatik dapat digolongkan sebagai Clect. Suatu  organisasi mungkin jatuh dikuasai oleh suatu Clect teetentu yang anggota – anggotanya sangat kuat solidaritasnya dan sangat kompak menghadapi Clect yang lain.
Kekuasaan  yang ada seakan – akan dimonopoli oleh Clect  dimana pihak luar tidak dapat ikut serta. Dalm keadaan demikian berkembanglah suap,  uang pelicin, upeti, atau pungutan liar ( pungli ) guna mendapatkan pelayanan dan fasilitas

6.    Formalisme ( formalism )

Ekonomi bazaar canteen, pelaksanaan peraturan tersurat tidak sam dengan yang tersirat. Pelaksanaanya bisa diibaratkan sebagai bazar dimana tidak ada kepastian hharga bersama – sama dengan kantin yang sudah ada kepastianharga dalam mengatur segala sesuatu dalam kehidupan masyarakat. Komisi tidak wajar seakan –akan dibenarkan, harga barang yang dibeli oleh dinas dinaikan diatas haarga pasar ( mark – up ), dimana selisi harga diserahkan kepada pejabat sebagai “ komisi ” korupsi seolah – olah dilembagakan diikuti dengan mutasi periodik bergilir diantara jabatan – jabatan ´’basah” jabatan – jabatan kering.

7.    Mitos, formula dan kode ( mythos, formula and Code )

Modern dalam pemikiran tetapi pelaksanaannya tradisional atau sebaliknya. Mitos, formula dan kode sudah diciptakan mengikuti pokok – pokok pikiran modern, tetapi dalam praktek tetap berlangsung tindakan – tindakan yang mengikuti norma tradisional.
Pemerintahan oleh rakyat, kedaulatan ditangan rakyat ( meerupakan mitos modern ), pejabat – pejabat eksekutif tertentu harus dipillih dalam pemilihan umum, pegawai – pegawai pemerintah administrasi Negara adalah abdi masyarakat ( merupakan formula modern ), pemerintahaan harus bertindak sesuai dengan hukum, adminitrasi Negara dapat dituntut didepan pengadila administrasi ( merupakan kode modern ), tetapi pada praktek kenyataannya rakyat dianggap sepi seolah – olah sebagai objek saja, sementara pejabat mengangkat dirinya dalam jabatan yang tidak dibatasi, bukan administrasi yang menjadi  public servants yang melayani, tetapi sebaliknya menjadi master yang dilayanidan sebagainya

8.    Distribusi kekuasaan : otoritas lawan konrol ( distribution of power : Autority versus Control )

Kekuasaan seharusnya dibagi – bagi dengan pendelegasian dalam rangka desentralisasi, akan tetapi prakteknya justru sebaliknya sentralisasi yang berlaku. Pada sisi yang lain struktur kekuasaannya sentralistik dan terpusat akan tetapi pengendalian atau konttrolnya teerpissah – pisah tersebar dilakukan oleh banyak pihak.

DAFTAR PUSTAKA
Heady, Farrel, 1971. Public Administration : A Coparative Perspective, englewoodCliffs, N, J. Prentice Hall Inc.

Kadarwati, Tri, 1994.  Administrasi NegaraPerbandingan,  Karunia, Jakarta

Rapahaeli, Nimrod ( ED ), 1970.  Readings in Comparative Public Administration,  Allyn and Bacon Inc, Boston.

Siffin, William J, 1967.  Comparative Studi of Public Administration, Indiana University, Bloomington.

Suhardjono, 1988.  Pengantar Studi Perbandingan Administrasi Negara,  Penerbit sangkakala Malang.

Pamudji,S,1988. Ekologi Administrasi Negara, Bina Aksara, Jakarta

Riggs,Fred W,1978. Administration in Developing Countries : The Theory Of Prismatic Society, Houhton Mifflin Company, Boston



   
LihatTutupKomentar