-->

Makalah Retensio Plassenta



Makalah retensio plasenta

LANDASAN TEORI

A.    Pengertian
Persalinan adalah proses fisiologis yang akan dialami wanita untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang hidup dati uterus, sedangkan pasca persalinan adalah waktu penyembuhan untuk kembali kepada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru mulai dari selesai persalinan sampai kira-kira 6 minggu,  tetapi alat genital baru pulih 3 bulan setelah persalinan (Bobak, Irena. M. 2005).
Partus biasa atau partus normal adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala (LBK) dengan tenaga ibu tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. Sedangkan partus spontan merupakan persalinan melalui vagina tanpa bantuan peralatan khusus. Sepenuhnya mengandalkan tenaga dan usaha ibu. Persalinan dapat terjadi pada presentasi kepala atau persalinan normal atau presentasi bokong atau sungsang (Mochtar, Rustam. 2011).
Retensio plasenta di definisikan sebagai belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. jika diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta (Manuaba. 2006).
Istilah plasenta akreta digunakan untuk menggambarkan tiap jenis implantasi yang melekat terlalu erat secara abnormal ke dinding uterus. Akibat ketiadaan total atau parsial desidua basalis dan ketidak sempurnaan perkembangan lapisan Nitabuch atau fibrinoid (Cunningham, F. Gary. 2013).
Gambar Plasenta


B.     Etiologi
Penyebab retensio plasenta menurut Sastrawinata, 2006 adalah :
1.      Fungsional :
a)      His atau kontraksi kurang kuat.
b)      Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba); bentuknya (plasenta membranasea, plasenta anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil). Plasenta yang sukar lepas karena sebab di atas disebut plasenta adhesive.
2.      Patologi – anatomi :
a)      Plasenta akreta
b)      Plasenta inkreta
c)      Plasenta perkreta
Belum lahirnya plasenta dapat juga disebabkan karena belum lepasnya plasenta dari dinding uterus karena kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesive), plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua sampai miometrium atau hingga mencapai bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, dapat disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkaserata plasenta).

C.    Pathofisiologi
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang belum terlepas mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapisan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan terjadi pelepasan plasenta (Prawiroharjo, S. 2007).
Dalam keadaan normal, decidua basalis terletak di antara myometrium dan plasenta. Lempeng pembelahan bagi bagi pemisahan plasenta berada dalam lapisan decidua basalis yang mirip spons. Pada plasenta akreta, decidua basalis tidak ada sebagian atau seluruhnya sehingga plasenta melekat langsung pada myometrium. Villi tersebut bisa tetap supervisial pada otot uterus atau dapat menembus lebih dalam karena adanya defek pada decidua. Pada daerah superfisal myometrium tumbuh sejumlah besar saluran vena di bawah plasenta. Ruptura sinus-sinus ini yang terjadi ketika plasenta dikeluarkan secara paksa akan menimbulkan perdarahan dalam jumlah banyak (Hary Oxorn & William. 2010).
A.    Anatomi Plasenta
Harry Oxorn dan William R. Forte, 2010 dalam bukunya Human Labort & Birth,, mengungkapkan normalnya Plasenta berbentuk cakram yang bundar atau lonjong (oval), mempunyai ukuran 20 x 15 cm dengan tebal 1.5 sampai 2.0 cm, berat plasenta yang biasanya 20% dari berat janin berkisar antara 425 dan 550 g.
Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Pada dasarnya plasenta berasal dari sebagian besar bagian janin, yaitu vili koriales yang berasal dari korion, dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari decidua basalis. Darah ibu yang berada dari ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di decidua basalis. Pada tekanan systole 70-80 mmHg darah di alirkan ke dalam ruang interviller hingga mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-;ahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena decidua basalis (Williams Obstetrics, 2013).
Fungsi utama plasenta adalah transfer nutrien dan zat sisa antara ibu dan janin (meliputi fungsi respirasi, ekskresi dan nutritif), menghasilkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk memelihara kehamilan, sebagai barier dan imunologis. Fungsi transfer tergantung kepada sifat fisik zat yang mengalami transfer dalam darah ibu maupun janin, integritas fungsi membrana plasenta (exchange membrane) dan kecepatan aliran darah pada kedua sisi exchang membrane ibu dan janin (Mitayani, 2009).
B.     Jenis-jenis Retensio Plasenta
Jenis-jenis retensio plasenta diantaranya :
a.    Plasenta Adhesive, dimana terjadi implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
b.    Plasenta Akreta, implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
c.    Plasenta Inkreta, implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
d.   Plasenta Prekreta, implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan serosa dinding uterus hingga ke peritorium.
e.    Plasenta Inkarserata, tertahannya plasenta didalam kavum uteri disebabkan oleh kontraksi ostium uteri.
(Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)

C. Manifestasi Klinis
a.         Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal meminta informasi mengenai episode pendarahan post partum sebelumnya, paritas, serta riwayat multiple fetus dan polihibranion. Serta riwayat post partum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul pendarahan aktif setelah bayi di lahirkan.
b.        Pada pemeriksaan pervaginaan, plasenta tidak ditemukan dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
2.      (Prawirohardjo, S. 2002)
Tanda dan gejala retensio plasenta terbagi menjadi :
a.    Plasenta Akreta Parsial/Separasi
b.    Konsistensi uterus kenyal, TFU setinggi pusat, bentuk uterus discoid, pendarahan sedang banyak, tali pusat terjulur sebagian, ostium uteri terbuka, separasi plasenta lepas sebagian, syok sering.
2.    Plasenta Akreta
a.    Konsistensi uterus cukup, TFU setinggi pusat, bentuk uterus discoid, pendarahan sedikit atau tidak ada, tali pusat tidak terjulur, ostium uteri terbuka, separasi plasenta melekat seluruhnya, syok jarang sekali, kecuali akibat inversion oleh tarikan kuat pada tali pusat.
b.    (dr. Taufan Nugroho, 2012)
D. Komplikasi
Menurut Mitayani, 2011 beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien post manual plasenta diantaranya :
a.    Pendarahan, terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta terdapat sedikit perlepasan hingga kontraksi memompa darah tetapi bagian yang melekat membuat luka tidak tertutup.
b.    Infeksi, plasenta yang tertinggal di dalam rahim meningkatkan per-tumbuhan bakteri dibantu dengan port d’entre dari tempat perlengketan plasenta.
c.    Dapat terjadi plasenta inkarserata dimana plasenta melekat terus sedang-kan kontraksi pada ostium baik.
d.   Terjadi polip plasenta sebagai massa poliferative yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis dengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat berubah menjadi (displastik-diskarotik) dan akhirnya menjadi karsinoma invasive. Sekali menjadi mikro invasive atau invasive, proses keganasan akan berjalan terus.
E. Pemeriksaan Penunjang
a.    Hitung darah lengkap, untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai infeksi , leukosit biasanya meningkat lebih tinggi.
b.   Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin Time (PT) dan Activated Partial Tromboplastin Time (APTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh factor lain. 
F. Penatalaksaan
Penatalaksanaan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah sebagai berikut :
a.    Resusitasi, pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
b.   Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c.    Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d.   Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
e.    Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f.    Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g.   Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.
2.   (dr. Tufan Bugroho, 2012)
G. Pengkajian Keperawatan
Beberapa hal yang perlu di kaji dalam asuhan keperawatan ibu dengan post partum spontan yang disertai retensio plasenta adalah :
a.    Identitas pasien
2.      Berupa data biologis/fisiologis yang meliputi : keluhan utama, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat obstetric (GPA, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas), serta pola kegiatan sehari-hari sebagai berikut :
a.    Sirkulasi :
                                          i.      Perubahan tekanan darah, nadi dan suhu.
                                        ii.      Pucat, kulit dingin atau lembab.
                                           iii.      Perdarahan vena gelap dari uterus ada secara eksternal (plasenta tertahan).
                                           iv.      Dapat mengalami perdarahan vagina berlebihan.
                                             v.      Haemoragi berat/gejala syok diluar proporsi jumlah kehilangan darah.
b.    Eliminasi
3.      Kaji keadaan kandung kemih, lihat ada tidaknya kandungan urine. Kandung kemih yang bulat dan lembut menunjukkan jumlah urine yang tertampung banyak sehingga dapat mengganggu involusi uteri dan harus segera di keluarkan.
a.       Ketidaknyamanan atau nyeri
4.      Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri tekan abdominal (fragmen plasenta tertahan) dan nyeri uterus lateral.
a.       Keamanan
5.      Laserasi jalan lahir  : darah tampak (terkadang tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik, robekan terlihat pada labia minora atau labia mayora dari muara vagina ke perineum, robekan luas dari episiotomy, ekstensi episiotomy ke dalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.
a.       Seksualitas
6.      Uterus kuat : kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak menonjol (gestasi multiple, polihidramnion, makrosomia), abrupsio plasenta, plasenta privia.
7.      Pemeriksaan Fisik meliputi : keadaan umun, tanda vital, pemeriksaan obstetric (inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi).
8.      Pemeriksaan Laboratorium meliputi : Hemaglobin (Hb 10 g/dl), Hematokrit (Hct 30 %). 
H.    Adaptasi dan Fisiologis Ibu Post Partum Spontan
Adaptasi fisiologi ibu post partum spontan/normal menurut Bobak (2005) & Cunningham (2006) dibagi menjadi beberapa sistem diantaranya yaitu :
a.       Sistem reproduksi
b.      Uterus
Involusi merupakan proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirakan, akibatnya otot – otot polos uterus berkontraksi pada waktu 12 jam, tinggi fundus uteri mencapai ± 1 cm diatas umbilicus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan fundus uteri turun kira- kira 1-2 cm setiap 24 jam.
b.      Lokhea
Menurut Saleha, 2009 lokhea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas. Berikut adalah beberapa jenis lokhea yang terdapat pada wanita pada masa nifas :
1. Lokhea rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, set-set desidua, verniks caseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan. Inilah lokia yang akan keluar selama 2-3 hari postpartum.
2. Lokhea sanguilenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke 3 sampai ke 7 pasca persalinan.
3. Lokhea serosa adalah lokhea berikutnya. Dimulai dengan versi yang lebih pucat dari lokhea rubra. Lokia ini berbentuk serum dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai hari ke-14 pasca persalinan.
4. Lokhea alba adalah lokia yang terakhir. Lokhea alba me-ngandung terutama cairan serum, jaringan desidua, leukosit dan eritrosit. Dimulai dari hari ke-14 sampai 1 atau 2 minggu berikutnya. Bentuknya seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua.
c.   Servik
Servik menjadi lunak  segera setelah melahirkan, 18 jam pasca partum, servik memendek dan konsentrasinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula.
d.   Vagina dan perineum
Estrogen pasca partum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, 6–8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu ke-4, walaupun tidak akan semenonjol pada wanita nulipara.
e.       Payudara
Setelah bayi lahir terjadi penurunan konsentrasi hormone yang menstimulasi perkembangan payudara estrogenm progesterone, human chorionic, gonadotropin, prolaktin, dan insulin), oksitosin merangsang refleksi let-down (mengalirkan) menyebabkan ejeksi ASI.
f.       Abdomen
Setelah melahirkan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, sehingga otot – otot dinding abdomen memisah, suatu keadaan yang dinamai diastasis rektus abdominalis. Apabila menetap efek ini dapat dirasa mengganggu pada wanita, tetapi seiring perjalanan waktu, efek tersebut menjadi kurang terlihat dan dalam enam minggu akan pulih kembali. 
2.      Sistem endokrin
Hormon plasenta kadar estrogen dan progesteron menurun secara signifikan dan saat terendah adalah 1 minggu post partum. Hormon hipofisis dan fungsi ovarium. Hipofisis dibagi menjadi dua, yaitu hipofisis anterior dan posterior. Hipofisis anterior mengsekresi hormone prolaktin untuk meningkatkan kelenjar mamae pembentukan air susu. Sedangkan hipofisis posterior sangat penting untuk diuretic. Oksitosin membntu alveolus mamae berkontraksi sehingga membantu mengalirkan ASI dari kelenjar mamae ke puting susu.
3.      Sistem urinarius
a.    Komponen urin
b.   BUN (Blood Urea Nitrogen), yang meningkat selama masa pascapartum, merupakan akibat otolisis uterus yang berinvolusi selama 1 – 2 hari setelah wanita melahirkan.
b.   Diuresis pasca partum
a.       Dalam 12 jam setelah melahirkan, mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama hamil. Salah satu mekanisme untuk mengurangi cairan yang terentesi selama masa hamil ialah diaforesis luas, terutama pada malam hari, selama 2 – 3 hari pertama setelah melahirkan.
c.    Uretra dan kandung kemih
a.              Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan edema, sering kali disertai  daerah-daerah kecil hemorargi. Pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan dapat menyebabkan kandumg kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu proses berkemih normal. 
4.  Sistem pencernaan
Pemulihan defekasi secara normal terjadi lambat dalam waktu 1 minggu. Hal ini disebabkan penurunan motilitas usus dan gangguan kenyamanan pada perineum. Penurunan tonus dan mortilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.
5.      Sistem kardiovaskuler
Tekanan darah sedikit berubah atau tetap. Hipotensi ortostatik, yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama. Nadi umumnya 60-80 denyut permenit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. Hemoglobin, hematokrit dan eritrosit akan kembali ke keadaan semula sebelum melahirkan, namun jika ada indikasi pendarahan maka tidak menutup kemungkinan Hb, Hct akan mengalami peningkatan.
6.      Sistem muskuloskeletal
Adaptasi sistem musculoskeletal ibu terjadi selama masa hamil berlangsung secara lebih baik pada masa pasca partum. Sebagian besar wanita melakukan ambulasi 4-8 jam setelah melahirkan. Stabilitas sendi lengkap pada minggu ke 6–8 setelah melahirkan.
7.      Perubahan TTV
Temperatur selama 24 jam pertama dapat meningkat sampai 38 derajat Celsius sebagai akibat efek dehidrasi persalinan. Setelah 24 jam wanita harus tidak demam. Pernapasan harus berada dalam rentan normal sebelum melahirkan.
8.      Adaptasi psikologi pada masa nifas
Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stress pasca persalinan, terutama pada ibu primipara. Periode ini diekspresikan oleh Reva Rubin dikutip dari Bobak (2005) yang terjadi pada tiga fase berikut ini :
a.       Fase dependent (Taking in period)
Terjadi pada satu sampai dua hari setelah persalinan, ibu sangat pasif dan sangat tergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.
b.      Fase dependen-independent  (Taking hold period)
Berlangsung tiga sampai empat hari post partum, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ibu menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu.
c.       Fase Interdependen (Letting go period)
Dialami setelah ibu dan bayi tiba dirumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai “seorang ibu” dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya. 
9.      Hiperpigmentasi
Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit meregang pada payudara, abdomen, paha dan panggul mungkin memudar, serta adanya diaphoresis. Ciri yang paling khas adanya bekas luka sayatan operasi sesar di sekitar abdomen.
Adaptasi lain yang muncul pada klien post partus spontan atau normal dengan manual plasenta antara lain : nyeri pada daerah insisi, gelisah, mudah tersinggung, nafas tidak teratur, selain itu dijumpai retensi urin dan takut untuk mobilisasi serta ketidakmampuan untuk aktifitas.
I.       Diagnose Keperawatan dan Fokus Intervensi
Menurut Carpenito (2007) dan Herdman (2012), diagnosa beserta fokus intervensi dibagi menjadi lima (5), yaitu :
1.      Mempertahankan keseimbangan volume cairan adekuat.
2.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
               Tujuan                      :

1.      Vital Sign dalam batas normal
2.      Balance cairan seimbang
3.      Turgor kulit baik
4.      Membrane mukosa lembab
5.      Kadar elektrolit, Hct dan Hb normal



Criteria hasil    :




Intervensi        :
a.    Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan, perhatikan factor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (laserasi, fragmen plasenta tertahan, sepsis, abrupsio plasenta, emboli cairan amnion).
Rasional : Membantu dalam membuat rencana keperawatan yang tepat dan pencegahan terhadap komplikasi.
b.     Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi pendarahan.
Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arterial versus vena membantu menentukan kebutuhan pengganti.
c.     Pantau masukan dan keluaran, perhatikan jenis berat urine.
Rasional : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikasi kehilangan cairan.
d.  Berikan cairan pengganti (infuse cairan isotonic atau elektrolit)
     Rasional : Menggati cairan yang hilang selama pengeluaran.
e. Kolaborasi dalam pemberian terapib sesuai indikasi (oksitoksin, methylergonovin maleat,    prostaglandin F2 alfa dan terapi antibiotik).
Rasional : Meningkatkan kontraksilitas dari uterus yang menonjol dan miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan hemoragi, antibiotic bertindak secara profilaktik untuk mencegah infeksi.

2.     

Infeksi tidak terjadi
Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan luka, trauma jaringan, prosedur invasive.

1.      Tidak ada tanda-tanda infeksi
2.      Vital Sigh dalam batas normal
3.      Angka Leukosit, Hb, LED, Albumin, Ig M, Ig E, dalam batas normal
Tujuan                  :
Creiteria hasil       :
Intervensi :
a.       Demonstrasikan perawatan diri yang benar, tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material yang ter-kontaminasi seperti pembalut, tissue, balutan.
b.      Rasional : Mencegah kontaminasi silang/penyebaran organism infeksius.
c.       Perhatikan perubahan tanda vital, gejala malaise, menggigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau nyeri pelvis.
d.      Rasional : Peningkatan suhu 380C atau lebih merupakan tanda-tanda infeksi, gejala malaise, menggigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau nyeri pelvis menandakan keterlibatan sistemik dan dapat menyebabkan kematian.
e.       Kaji keadaan Hb, dan Hct.
f.       Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat pemulihan, dan merusak system imun.
a.       Berikan suplemen zat gizi sesuai indikasi.
g.      Rasional : sebagai terapi untuk pemulihan.

3.  Nyeri teratasi, berkurang atau hilang.
Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan, kerusakan jaringan, proses inflamasi.

Pasien mampu mengidentifikasikan dan menggunakan strategi untuk mengatasi nyeri serta mengungkapkan berkurangnya nyeri, pasien tampak rileks, skala nyeri berkurang 0-2.
Tujuan             :
Criteria hasil    :
Intervensi
a.       Tentukan karekteristik, tipe, lokasi dan durasi nyeri.
Rasional : Membantu dalam penentuan diagnose banding dan pemilihan metode tindakan.
b.      Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamanan.
Rasional : Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan ansietas, yang memperberat persepsi ketidaknyamanan.
c.       Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es atau lampu pemanas pada penyembuhan episiotomy.
Rasional : Kompres dingin meminimalkan edema dan sensasi nyeri.
d.      Ajarkan teknik relaksasi seperti progresif dan distraksi.
Rasional : Mengurangi sensasi nyeri.
e.Menurunkan nyeri dan ansietas serta meningkatkan relaksasi.
Kolaborasi dalam pemberian analgetik, narkotok, sedative sesuai indikasi.
Rasional
4.     
Pendarahan tidak terjadi.
Resiko pendarahan berhubungan dengan komplikasi post partum (retensio plasenta)

1.      Konjungtiva tidak anemis
2.      Hb dan Hct dalam batas normal
3.      Pasien tidak lemas
Tujuan             :
Criteria hasil    :
Intervensi
a.       Observasi keadaan umum meliputi keluhan dan konjungtiva.
Rasional : Pasien tampak lemah dengan konjungtiva anemis adalah salah satu tanda anemia.
b.      Identifikasi pengetahuan pasien tentang anemia dan jelaskan penyebab dari anemia.
Rasional : Memudahkan perawat dalam memberikan penjelasan terkait anemia.
c.       Anjurkan pasien untuk tirah baring.
Rasional : Pasien banyak memerlukan waktu istirahat dengan suasana yang kondusif dan tenang.
d. Kolaborasi dalam pemberian :
1)      Pemberian nutrisi yang adekuat (TKTP)
2)      Pemberian tranfusi jika diperluakan.
Rasional : Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan transfuse darah dibutuhkan untuk mencegah anemia lebih lanjut.

5. .     
Pengetahuan pasien meningkat mengenai penyakitnya dan perawatann ibu pasca melahirkan.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan pasca melahirkan.
Tujuan             :
Pasien mampu menjawab pertanyaan perawat dan mampu mendemonstrasikan ulang apa yang diajarkan. perawat.
Criteria hasil    :
Intervensi
a.       Ciptakan lingkungan kondusif untuk belajar.
b.      Kaji ulang pengetahuan pasien tentang perawatan pasca melahirkan.
c.       Berikan informasi tentang perawatan pasca melahirkan selama dirumah.
d.      Lakukan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pemberian obat yang benar, pengaturan diit dan hal yang harus di hindari.
e.       Berikan kesempatan kesempatan pada pasien dan keluarga untuk bertanya.
f.       Lakukan evaluasi terhadap tindakan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. Dalam pengertian ini dimaksudkan juga perdarahan karena retensio plasenta.
       Perdarahan terutama perdarahan post partum masih merupakan salah satu dari sebab utama kematian ibu dalam persalinan. Karena itu ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post partum, yaitu : penghentian perdarahan, jangan sampai timbul syok penggantian darah yang hilang. Melihat dari masalah tersebut maka diperlukan manajemen asuhan kebidanan yang komperensif yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan. Dan harapan nantinya mampu mengambil keputusan secara cepat bila menemukan masalah-masalah yang terjadi selama kehamilan

1.2   Tujuan
1.      Tujuan Umum
Agar mahasiswa mapu menerapkan dan memahami ilmu pengetahuan secara teoritis dan praktis mengenai asuhan kebidanan pada persalinan melalui pendekatan menajemen kebidanan

  1. Tujuan Khusus
Dengan disusunya lpaoran ini diharapkan :
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian data
b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah
c. Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial
d. Mahasiswa dapat mengidentifikasi kebutuhan segera
e. Mahasiswa dapat merencanakan asuhan kebidanan
f.  Mahasiswa dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah direncanakan
g  Mahasiswa dapat mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan
1.3  Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam asuhan kebidanan ini hanya sebatas pada masalah pembahasan retensia plasenta saja
1.4  Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan adalah metode kepustakaan, wawancara, observasi
1.5  Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
BAB II Landasan Teori
BAB III Tinjauan Kasus
BAB IV Pembahsan
BAB V Penutup
DAFTAR PUSTAKA


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Dasar Persalinan
2.1.1  Pengertian Persalinan
                  Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar
(Sarwono, 0993 : 180)
  Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba, 1998 :134)
 Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melaui jalan lahir. Jadi persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada krhsmilsn cukup bulan (37-40 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu ataupun pada janin (Sarwono, 1999 : 100)
2.1.2 . Bentuk Persalinan Berdasarkan Definisi
1.   Persalinan Spontan
Bila persalinan seluruhnya beralngsung dengan kekuatan sendiri
2.    Persalinan Buatan
 Bila persalinan dengan bantuan tenaga dari luar
3.     Persalianan Anjuran
Persalinan yang dilakukan atas anjuran dokter atau bidan karena adanya indikasi yang dapat mebahayakan ibu
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhih persalianan
1.      Power / tenaga
Terdiri dari :
1.Kontraksi dinding perut
2.Kontraksi diafragma perut atau kekuatan mengejan
3.Ketegangan dan kontraksi ligamentum rotundum
2. Passenger / janin : Penurunan presentasi dan kembalinya normaldetak jantung bayi setelah kontraksi :
1. Periksa detak jantung bayi setiap 15 menit atau lebih sering dilakukan dengan makin dekatnya persalinan
2.Terdiri dari janin dan plasenta
3. Penurunan presentasi dan perubahan posisi
4.  Warna cairan tertentu
3. Passage / kondisi ibu
Meliputi :
1.       Jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang’

2.1.4        Beberapa teori yang dapat menyebabkan pesalinan
1.      Penurunan kadar progesterone
Progesterone dapat menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya esterogen dapat meninggikan kerentanan otot rahim. Pada akhirnya kehamilan kadar progesterone menurun sehingga timbul his
2.      Teori oxytosin
Pada akhirnya kehamilan kadar oxytocin bertambah sehingga timbul kontraksi otot-otot rahim
3.      Pengaruh janin
4.      Kerenggangan otot
Dengan majunya kehamilan makin meregang otot-otot rahim akan makin rentan
2.1.5 Proses persalinan
a.  Sebelum persalinan akan terjadi
     1  Penipisan (penurunan)
Sebelum awal persalinan, kepala janin sudah mulai lebih jauh kedalam pelvik. Hal ini mengurangi tekanan pada diafragma, seperti memperingan beban bayi dan memungkinkan ibu untuk bernafas lebih mudah, ibu mungkin akan lebih sering berkemih dan lebih tertekan pada kandung kemih karena bayi sudah masuk ke PAP.
    2 . Persalinan palsu
Sepanjang persalinan uterus kontraksi tidak teratur dan tidak sakit dalam suatu aksi yang disebut kontraksi braxton hicks, tepat minggu sebelumnya melahirkan, kontraksi ini mungkin lebih kuat dan teratur untuk meyakinkan ibu bahwa persalinan telah dimulai. Bila serviks belum diatasi bila perjalanan tidak memberikan efek atau kontraksi lemah, bila berhenti sementara kejadian ini disebut kontraksi palsu
   3. Pengeluaran vagina dan Show
Karena tekanan dari dalam serviks yang tipis, pasien mungkin melihat suatu keluaran vagina yang meningkat. Kelahiran sering segera terjadi setelah pengeluaran ini. Tanda penting lainnya adalah keluarnya lender yang menyumbat dan keluar seperti gumpalan darah ini disebut show. Tapi hal ini merupakan yang tidak normal dan harus ditangani segera.
  4   Pecahnya membrane amnion
Volume normal cairan amnion adalah 100 ml sebelum bayi lahir, dimana membrane ini harus pecah saat persalinan dimulai. Apabila selaput belum pecah maka akan menghambat turunya kepala janin.
b. Awal gejala persalinan
   1.Penyebab
Dalam banyak buku penyebab dari persalinan masih mejadi misteri bagaimana sejumlah factor terlihat bijaksana untuk mempercepat dalam mempertahankan kontraksi uterus dalam persalinan.
Serabut otot uterus menjadi lebih mudah terangsang karena mengalami regangan oleh pertumbuhan bayi dekat dengan akhir kehamilan.
Perubahan hormonal sangat memegang peranan penting dalam proses persalinan.
2. Persalinan sejati
Tanda-tandanya :
a.    Kontraksi pada interval yang teratur
b.    Interval antar kontraksi lebih pendek
c.    Durasi dan intensitas kontraksi meningkat
d.   Rasa tidak nyaman mulai di belakang sampai menjalar ke abdomen
e.    Berjalan biasanya menyebabkan intensitas kontraksi
f.     Dilatasi dan perdarahan serviks megalami kemajuan
c.       Kekuatan persalinan
1.      Kontraksi uterus
Setiap kontraksi memiliki 3 fase
- Increment       ketika intensitas berbentuk
- Acme             puncak / maksimum
- Decement       ketika otot relaksasi
2.      Relaksasi otot abdomen
d.      Kala dalam persalinan
1.      Kala I (pembukaan)
Ditandai dengan keluarnya lender bercampur darah, karena serviks mulai membuka (dilatasi) dan mendatar (effacement)
-          Fase laten
Berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi lambat sampai pembukaan 3 cm
-          Fase aktif
Berlangsung selama 6 jam dan dibagi :
         Fase akselerasi
Berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm
         Fase dilatasi maksimal
Selama 2 jam pembukaan berlangsung secara cepat menjadi 9 cm
         Fase piselerasi
Berlangsung lambat dalam 2 jam pembukaan menjadi 10 cm / lengkap
2. Kala II
Dimulai oleh pembukaan lengkap 10 cmsampai bayi lahir. Proses biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan I jan pada multi
3.  Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya placenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit
4. Kala IV
Dimulai saat lahirnya placenta sampai 2 jam pertama post partum
2.2    LANDASAN TEORI RETENSIO PLASENTA
1.      Pengertian
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta tidak dapat lahir setelah 30 menit kelahiran bayi
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dan dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir. (Mochtar, 1998)

2. Jenis retensio plasenta
a. Retensio plasenta tanpa perdarahan yaitu bila terjadi bagian plasenta belum lepas
b. Retensio plasenta dengan perdarahan

3. Etiologi
a. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena tumbuh melekat lebih dalam sehingga kontraksi uterus kurang kuat. Menurut tingkatannya :
-          Plasenta adhesive
-          Plasenta inkreta
-          Plasenta akreta
-          Plasenta perkreta
b.  Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar (inkarserasia plasenta)
c. Pimpinan kala III yang salah : memijat rahim tidak merata, massase sebelum plasenta lepas
d.  Kontraksi uterus yang hipertonik
e.  Kelainan bentuk plasenta
-          Plasenta fenestrate
-          Plasenta membranacea
-          Plasenta bilobata
-          Plasenta succenturiata
-          Plasenta spuria
4.      Faktor presdipopsisi
a. Kehamilan ganda
b. Over distensi rahim
c. Atonia rahim
d. Persalinan yang tidak baik juga efek anatomi seperti fibroid, anomaly rahim atau jaringan parut akibat pembedahan rahim sebelumnya
e. Plasenta yang abnormal seperti yang terjadi pad plasenta akreta atau implantasi plasenta pada septum uterus atau jaringan parut
f.  Miomektomi, curettage, endimetritis sehubungan dengan TBC
5.  Penanganan
a.  Kaji ulang indikasi
b. Persetujuan tindakan medis
c. Kaji ulang prinsip dasar perawatan dan pasang infuse
d.  Berikan sedatifa dan analgetika (missal petidin dan diazepam I.V)
e.  Beri antibiotika dosis tinggi
f.  Pasang sarung tangan DTT
g. Jepit tali pusat dengan kokher dan tegangkan sejajar lantai
h. Masukkan tangan secara obstetric dengan menelusuri bagian bawah tali pusat
i. Tangan sebelum menelusuri tali pusat dan yang satu lagi menahan fundus uterus sekaligus menahan intersio uteri
j.  Dengan bagian lateral jari-jari tangan dicari insersi pinggir plasenta
k.  Buka tangan obstretik menjadi seperti memberi salam, jari-jari dirapatkan
l. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah
m. Gerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sampai bergeser ke cranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan
n. Jika plasenta tidak dilepaskan dari permukaan uterus kemungkinan plasenta akreta, dan siapkan laparatomi untuk histerektomi supravaginal
o.   Pegang plasenta dan keluarkan tangan bersama dengan plasenta
p.  Pindahkan tangan keluar ke suprasimpisis untuk menahan uterus saat plasenta sikeluarkan
q.  Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding   uterus
r. Beri oksitosin IV dalam 500 ml cairan IV 60 tetes/ menit dan massase uterus untuk merangsang kontraksi
s.  Jika masih berdarah banyak dari ergometrin 0,2 mg IM atau prostaglandin
t. Periksa apakah plasenta lengkap apa tidak. Jika tidak lengkap lakukan eksplorasi ke dalam cavum uteri
u.  Periksa dan perbaiki robekan serviks, vagina dan episiotomi
6.      Komplikasi
a.       Perdarahan
b.      Infeksi
c.       Perforasi
d.      Syok hipovolemik
MANAJEMEN RETENSIO PLASENTA
I.     Pengkajian
a.       Data Subyekyif
-          Biodata
Umur : resiko tinggi terjadi pada umur > 30 tahun
-          Keluhan utama
Adanya keluahan plasenta belum lepas 30 menit, perdarahan sedikit atau perdarahan banyak, persalinan lama

-          Riwayat penyakit sekarang
Apakah mempunyai riwayat penyakit fibroid dan kelainan letak rahim
-          Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah mempunyai riwayat endometritis sehubungan TBC dan menjalani momektomi
-          Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang
Apakah mempunyai riwayat gemeli, atonia, uteri, plasenta adhesive, ikreta, perkreta inkarserasio plasenta, kelainan plasenta fenestrate, membranacea bilobata, plasenta succenturiata, plasenta spiria, atonia rahim, overdistensi rahim, kontraksi uterus hipertonik, grademulti.

b.      Data Obyektif
-      Pemeriksaan umum
KU                        : Composmentis sangat syok
Tensi                     : Normal (110/70-130/90 mmHg)
Nadi                     : Normal 60-90 x/menit)
Suhu                     : Normal (36,5 – 37,3oC)
Pernafasan            : Normal (16-24 x/menit)
-          Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Muka                   : Apakah pucat/ tidak , berkeringat bila terjadi perdarahan banyak
Mata                    : Conjungtiva pucat apabila terjadi perdarahan banyak
Genetalia             : Perdarahan pervaginam sedikit sampai banyak, tali pusat terjulur sebagian
Palpasi
TFU sepusat pada retensio plasenta separasi atau akreta parsial
TFU 2 jari bawah pusat pada retensio plasenta inkorserata
TFU sepusat pada retensio plasenta akreta
Bentuk uterus diskoit pada retensio plasenta separasi atau akreta parsial
Bentuk uterus agak globuler pada retensio plasenta inkarserata
Kontraksi uterus keras pada retensio plasenta inkarserata
Kontraksi uterus cukup pada retensio plasenta akreta
Kontraksi uterus lembek
Ekstremitas teraba dingin
-          Pemeriksaan penunjang
Golongan darah
Hb
     -          Pemeriksaan genekologi
Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis serviks tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterys
II.  Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx      : P ….. Ab …… kala II dengan retensio plasenta
Ds       : Adanya keluhan plasenta belum lepas 30 menit setelah bayi lahir, perdarahan sedikit atau banyak, persalinan lama
Do       : KU            : Composmentis sampai syok
              Tensi         : Normal sampai syok
              Nadi          : Normal hingga meningkat bila terjadi syok
              Suhu          : Normal hingga menurun bila terjadi syok
              Pernafasan            : Normal hingga meningkat bila terjadi syok
Genetalia                  : perdarahan pervaginam sedikit sampai banyak, tali pusat terjulur sebagian
TFU sepusat pada retensio plasenta separasi atau akreta parsial
TFU 2 jari bawah pusat pada retensio plasenta inkorserata
TFU sepusat pada retensio plasenta akreta
Bentuk uterus diskoit pada retensio plasenta separasi atau akreta parsial
Bentuk uterus agak globuler pada retensio plasenta inkarserata
Kontraksi uterus keras pada retensio plasenta inkarserata
Kontraksi uterus cukup pada retensio plasenta akreta
Kontraksi uterus lembek
Ekstremitas teraba dingin

III.   Analisa Diagnosa dan Masalah Potensial
-          Perdarahan
-          Syok
-          Infeksi
-          Gangguan rasa nyaman

IV.   Identifikasi Kebutuhan Segera
-   Perbaikan KU dengan pemasangan infuse dan observasi TTV
-   Plasenta manual

V.  Intervensi
Tujuan                    : Perdarahan terhenti dan tidak terjadi komplikasi
Criteria hasil           :
-          Plasenta lahir lengkap
-          Ku dan TTV kembali normal
       Intervensi
1.      Lakukan pendekatan dengan ibu dan keluarga
R/ Dengan pendekatan dengan pasien dan keluarga lebih kooperatif dalam setiap tindakan perawatan
2.      Lakukan cuci tangan dengan sabun antiseptic sebagai tindakan pencegahan infeksi R/ Dengan melakukan pencegahan infeksi dapat mencegah terjadinya infeksi dan penularan penyakit
3.      Lakukan observasi TTV dan KU
R/ Dengan TTV dapat mendeteksi secara dini terjadinya komplikasi
4.      Pasang infuse Na Cl atau Rl
R/ Pemberian infuse dapat mengganti cairan yang hilang karena perdarahan
5.      Lakukan pelepasan plasenta secara manual sesuai dengan standar
R/ Den gan dilakukanya plasenta manual, plasenta dapat lahir segera dan perdarahan tidak terjadi
6.      Periksa pelepasan plasenta
R/ Dengan melakukan pemeriksaan pelepasan plasenta dapat mengetahui kelengkapan dari plasenta tersbut
7.      Kolaborasi dengan dr. Sp OG dalam memberikan antibiotic spectrum luas
R/ Mencegah terjadinya infeksi
8.      Mengajari pada ibu cara massase infeksi
R/ Menjaga kontraksi uterus agar tetap baik sehingga tidak terjadi perdarahan
VI.   Implementasi
Sesuai dengan intervensi

VII.  Evaluasi
-     Plasenta lahir lengkap
-      Ku dan TTV kembali norma
BAB III
TINJAUAN KASUS

I.     Pengkajian Data
Tanggal pengkajian : 26-10-2012                           Jam : 07.30 WIB
A.    Data Subyekatif
1.      Biodata
                                    pasien                  : Ny :N”     
  Umur                     : 30 tahun        
  Pendidikan           : SMP     
  Agama                  : Islam     
  Pekerjaan              : IRT                                                                              
   Nama Suami         : Tn “A
Umur                           Umur                   : 32 th
Pendi                            Pendidkan            : SMA
                 Agama                 : Islam
                 Pekerjaan             : Swasata
     Alamat                  : Dumpul Pakis

2.      Keluhan utama
Ibu mengatakan selelsai melahirkan dam ari-ari belum lepas selama 30 menit

3.      Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak punya penyakit menular (Dm, Hipertensi), menahun (TBC, jantung), menular (TBC), dan tidak punya riwayat kembar

4.      Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit menurun, menahun ataupun menular

5.      Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular, menahun ataupun menahun dan tidak ada riwayat kembar

6.      Riwayat haid
- Menarche             : 13 tahun
- Siklus haid           : 7 hari
- Lama haid            : 28 hari (teratur)
- Banyaknya           : 2-3 softex / hari
- Disminorhea         : hari 1-2 haid
- HPHT                   : 20 Februari 2006
- TP                         : 27 November 2006

7.      Riwayat perkawinan
Nikah                      :1x
Lama nikah             : 9 tahun
Umur I nikah          : 21 tahun

8.      Riwayat obstretik (kehamilan, persalinan, nifas yang lalu)
Suami ke
Keluhan
Persalinan
Nifas
Anak
KB
Hamil
UK
Penyulit
Jenis
Tmp
Penolong
BBL
Penyulit
Sex
Umur
H/M
1
2
I
Hamil
38-39
-
PKM
Bidan
3150
Retplas
N
7 th
H
Depo

9.      Riwayat KB
Ibu mengatakan mengikuti KB suntik 3 bulanan selama 7 tahun

10.  Riwayat kehamilan sekarang
-          Usia kehamilan 39-40 minggu
-          ANC 8x periksa ke PKM
-          Mual-mual umur kehamilan 8-10 minggu
-          Imunisasi TT 2x
-          Ibu mendapatkan obat berwarna merah (Fe) diminum 1x1 tablet sebelum tidur malam, Kalk, dan vitamin C




11.  Pola kebiasaan sehari-hari
      1.    Pola nutrisi
 Selama hamil             : Makan 3x sehari porsi sedang terdiri dari nasi, lauk-pauk,     sayuran, kadang ditambah buah dan susu.
Di PKM                     : Makan 1x sehari porsi sedang tidak habis dan ½ gelas the manis
1.         Pola eliminasi
               Selama hamil             : BAK 5-6x / hari warna kuning jernih
                                                    BAB 1x sehari
2.         Pola aktivitas
               Selama hamil             : Tidur malam ± 8 jam , jarang tidur siang
   Di PKM                     : Ibu belum tidur sama sekali karena kesakitan menahan   kontraksi
3.          Pola personal hygiene
Selama hamil             : Mandi 2x sehari, gosok gigi2x sehari, ganti celana dalam 2x   sehari, cuci rambut 3x seminggu
     Di PKM                     : Ibu belum mandi, gosok gigi

12.  Riwayat Psikososial, budaya dan spiritual
a.       Psikologi
         Ibu mengalami kecemasan dan khawatir akan keadaan dirinya
b.      Social
         Hubungan antara ibu dan suami dan anggota keluarganya sangat baik
c.       Budaya
Ibu mengatakan pernah minum jamu-jamuan tapi jarang, seperti beras kencur,dan kunir asem
d.      Spiritual
         Ibu melaksanakansholat 5 waktu
B.     Data Obyektif
1        Pemeriksaan umum
KU                    : lemah
Kesadaran         : Composmentis
Tensi                  : 90/60 mmHg
Nadi                  : 100 x/menit
Suhu                  : 35,8 oC
RR                     : 28 x/menit
TB                     : 155 cm
BB                     : 57 kg

2        Pemeriksaan fisik
a.       Inspeksi
Rambut         : Bersih, tidak mudah rontok, warna hitam
Mata              : Skera tidak ikterus, conjungtiva pucat
Muka            : Pucat berkeringat
Hidung          : Tidak ada pernafasan cuping hidung
Telinga          : Tidak ada secret, simetris, tidak adagangguan pendengaran
Mulut            : Tidak ada stomatitis, lidah bersih, tidak ada caries gigi
Leher             : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroiddan bendungan vena jugularis
Dada             : Simetris, putting susu menonjol, pengeluran colostrums (-), retraksi dinding dada (-)
Perut             : Tidak ada luka bekas operasi, perut tampak membesar, linea nigra
Genetalia       : Perdarahan pervaginam, tali pusat jelujur sebagian
Ekstremitas   : oedema -   -                                Varices -   -
                                  -   -                                             -   -


b.      Palpasi
Perut                 : kontraksi uterus lembek, TFU setinggi pusat
Ekstremitas       : teraba dingin

3        Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan

II.      Identifkasi Diagnosa dan Masalah
Dx                        : Ny “Y” P2002 Abooo kala III dengan retensio plasenta
Ds             : Ibu mengeluh bahwa plasentanya belum lepas selama 30 menit setelah bayi lahir
Do            : KU                : lemah
                   Kesadaran     : Composmentis
                   Tensi  : 90/60 mmHg
                   Nadi  : 100 x/menit
                   Suhu  : 35,8 oC
                   RR     : 28 x/menit
                   TB     : 155 cm
                   BB     : 57 kg
                   Genetalia       : Perdarahan pervaginam, tali pusat terjulur  sebagian
                   Perut              : Kontraksi uterus lembek, TFU setinggi pusat

III.   Analisa Diagnosa dan Masalah Potensial
-          Perdarahan
-          Syok
-          Infeksi
-          Gangguan rasa nyaman

IV.   Identifikasi Kebutuhan Segera
-          Perbaikan KU dengan pemasangan infuse dan observasi TTV
-          Plasenta manual
V.      Intervensi
Dx                        : Ny “Y” P2002 Abooo kala III dengan retensio plasenta
Tujuan      : Perdarahan terhenti dan tidak terjadi komplikasi
Kriteria hasil :
-          Plasenta lahir lengkap
-          KU dan TTV kembali normal
Intervensi :
1.      Lakukan pendekatan dengan ibu dan keluarga
R/ Dengan pendekatan pada pasien dan keluarga lebih kooperatif dalam setiap tindakan perawatan
2.      Lakukan cuci tangan dengan sabun antiseptic sebagai tindakan pencegahan infeksi
R/ Dengan melakukan pencegahan infeksi dapat mencegah infeksi dapat mencagah terjadinya infeksi dan penularan penyakit
3.      Lakukan observasi TTV dan KU
R/ Dengan TTV dapat mendeteksi secara dini terjadinya komplikasi
4.      Pasang infuse Na cl atau RL
R/ Pemberian infuse dapat mengganti cairan yang hilang karena perdarahan
5.      Cek fudus uteri
R/ Untuk mengetahui apakah kehamilannya kembar
6.      Melakukan PTT (penegangan tali pusat terkendali)
R/ Untuk mengetahui plasenta sudah lepas apa belum
7.      Lakukan pelepasan plasenta secara normal sesuai dengan standart
R/ Dengan dilakukannya plasenta manual, plasenta dapat lahir segera dan perdarahan tidak terjadi
8.      Periksa pelepasan plasenta
R/ Dengan melakukan pemeriksaan pelepasan plasenta dapat mengetahui kelengkapan dari plasenta tersebut
9.      Kolaborasi dengan dr Sp OG dalam pemberian antibiotic spectrum luas
R/ Untuk mencegah terjadinya infeksi
10.  Mengajari pada ibu cara massase uterus
R/ Menjaga kontraksi uterus agar tetap baik sehingga tidak terjadi perdarahan

VI.   Implementasi
Tangal 26-11-2006                                   Jam : 11.10 WIB
Dx                        : Ny “Y” P2002 Abooo kala III dengan retensio plasenta
1.Melakukan pendetan pada ibu dan keluarga untuk meningkatkan kerjasama ibu dalam    pemberian tindakan medis
2. Lakukan perawatan dengan tehnik aseptic untuk mencegah terjadinya infeksi dan penularan penyakit
3. Lakukan observasi TTV
      Tensi     : 90/60 mmHg
       Nadi      : 100 x/menit
      Suhu      : 35,8 oC
      RR        : 28 x/menit
4.Pasang infuse RL 1 fles grojok untuk mengganti cairan tubuh yang hilang karena perdarahan
5. Cek fundus uteri untuk menentukan kehamilan kembar
6. Melakukan penegangan tali pusat terkendali untuk mengetahui plasenta sudah lepas atau belum
7.    Lakukan pelepasan plasenta secara manual sesuaid engan standart
a.       Berikan sedatita dan analgetika (missal petidin dan diazepam IV)
b.      .Berikan antibiotika dosis tinggi
c.       Pasang sarung tangan DTT
d.      .Jepit tali pusat dnegan kokher dan tegangkan
e.       Masukkan tangan secara obstretik dengan menelusuri bagian bawah tali pusat
f.       Tangan sebelah menelusuri tali pusat dan yang satu lagi menahan fundus uteri, sekaligus infersio uteri
g.      Dengan bagian lateral jari-jari tangan dicari insersi pinggir plasenta
h.       Buka tangan dostetrik menjadi seperti memberi salam, jari-jari dirapatkan
i.        Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah
j.        Gerakkan tangan kanan ke kiri dank e kanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan
k.      k.Jika plasenta tidak dilepaskan dari permukaan uterus kemungkinan plasenta akreta, dan siapkan laparatomi untuk histerektomi supravaginam
l.        Regang plasenta dan keluarkan tangan bersama dengan plasenta
m.    m.Pindahkan tangan keluar ke suprasimpisis untuk menahan uterus saat plasenta dikelurarkan
n.      n.Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus
o.      o. Beri oksitosin Io Iu dalam 500 ml cairan IV 60 tetes / menitdan massase uterus untuk merangsang kontraksi
p.      p. Jika masih perdarahan beri ergometrin 0,2 mg IM atau prostaglandin
q.      q. Periksa apakah plasenta lengkap atau tidak. Jika tidak lengkap lakukan eksplorasi di dalam cavum uteri
r.        r. Periksa dan perbaiki robekan serviks, vagina dan episiotomi
8. Mengajari ibu untuk massase uterus searah dengan jarum jam sampai terasa keras sehingga tidak terjadi perdarahan
9.    Kolaborasi dengan dr. Sp OG dalam pemberian terapi
-          Amixilin                : 3X1
-          Asam metenamat : 3x1
-          Fe                          :1x1

VII.          Evaluasi
Tanggal : 26-11-2006                               Jam : 12.00WIB
Dx                        : Ny “Y” P2002 Ab000 post partum dengan retensio plasenta
S               : Ibu merasa lega dan bersyukur karena plasentanya sudah dikeluarkan dan anknya dapat lahir dengan selamat
O              : KU                : lemah
                   Kesadaran     : Composmentis
                   Tensi  : 90/60 mmHg
                   Nadi  : 100 x/menit
                   Suhu  : 35,8 oC
                   RR     : 28 x/menit
                   TB     : 155 cm
                   BB     : 57 kg
                   Genetalia       : Perdarahan 150 cc
                   Perut              : Kontraksi (+)
A                : Ny “Y” P2002 Abooo post partum dengan retensio plasenta
P                 : - Observasi TTV dan KU
                     - Anjurkan untuk massase uterus
                     - Pemberian nutrisi (makan dan minum) untuk kondisi tubuh
                     - Pemberian tx         : - Amoxilin 3x1
                                                                   - Asam Mefenamat 3x1
                                                                   - Fe    1x1
BAB IV
PEMBAHASAN

            Pembahasan dalam asuhan kebidanan ini adalah pembahasan tentang adanya kesenjangan teori dan kasus. Di dalam kasus ini tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengantinjauan kasus.
            Pada kasus ini diharapkan dengan ini intervensi yang benar dan didukung dengan implementasi yang maksimal pada ibu serta pemberian KIE yang jelas serta tindakan medis oleh petugas kesehatan sehingga masalah dapat teratasi
            Dengan demikian penulis memberikan asuhan kebidanan dengan memperhatikan gejala dan keluhan yang terjadi sehingga diharapkan tidak menimbulkan masalah lain yang bias merugikan kesehatan pasie
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
                   Dalam pelaksanaan praktek klinik lapangan ini, mahasiswa telah menggunakan asuhan kebidanan dengan 7 langkah varney. Dalam laporan ini penulis melakukan pengkajian data pada pasien, identifikasi diagnosa dan masalah, antisipasi masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi. Pada kasus yang diangkat dalam pemberian asuhan pada ibu tidak jauh berbeda walaupun masih ada kesenjangan yang biasa digunakan untuk saling melengkapi antara teori dan kasus. Dan akhirnya semoga laporan ini bermanfaat serta dapat menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca pada umunya

Saran
 Untuk petugas kesehatan diharapkan dapat meberikan perawatan dan tindakan medis yang maksimal dalam meberikan asuhan kebidanan 
  Bagi mahasiswa hendaknya mempunyai jam terbang yang tinggi dalam praktek. Agar nanti jika lulus akan menjadi seorang bidan yang kopeten
                                                      
                                                                DAFTAR PUSTAKA

Muchtar, Rustam 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta EGC

Sarwono, 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP

Manuaba , 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC


LihatTutupKomentar