-->

Teori Konstruktivisme Kelebihan dan Kekurangannya

Teori Kontruktivisme

Dunia.Com - Teori belajar konstruktivisme ini bertitik tolak daripada teori pembelajaran behaviorisme yang didukung oleh B.F Skinner yang mementingkan perubahan tingkah laku pada belajar. Pembelajaran dianggap berlaku apabila terdapat perubahan tingkah laku kepada pelajar , Contohnya dari tidak tahu kepada tahu. Hal ini kemudian beralih kepada teori pandangan kognitivisme yang diperkenalkan oleh Jean Piaget dimana ide utama pandangan ini adalah mental. Semua dalam diri individu diwakili melalui struktur mental dikenal sebagai skema yang akan menentukan bagaimana data dan informasi yang diterima difahami manusia,

     Pada dasarnya perspektif ini mempunyai asumsi bajwa pengetahuan lebih bersifat kontekstual daripada absolut, yang memungkinkan adanya penafsiran jamak( multiple lerspektives ) bukan hanya satu perspektif saja. Hal ini berarti bahwa " pengetahuan dibentuk menkaji pemahaman individual melalui interaksi dengan lingkungan dan orang lain ". Perspektif konstruktivisme mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebib menekankan proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar , cara belajar dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan yang bersifat perspektif.

       Jadi, Konstruktivisme  didefinisikan sebagai Pembelajaran yang bersifat Generatif, tindakan menciptakan sesuatu makna daripada yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakekat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, konstruktivisme lebih memahami belajar sebagai  kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamannya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.

        Von Glasereld mengatakan bahwa konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi ( bentukan) kita sendiri.

       Lev Vygotsky mengatakan konstruksi menekankan bahwa murid mengunstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain. Isi dari pengetahuan ini dipengaruhi oleh kultur dimana murid tinggal, yang mencangkup bahasa, keyakinan dan keahlian /keterampilan (15). Maka bagi Vygotsky, ada dua prinsip penting berkenaan dengan teori konstruktivisme sosialnya, yaitu :

       Mengenai fungsi dan pentingya bahasa dalam komunikasi yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda ( sign ) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan.
Zona Of Proximal Development. Pendidik sebagai mediator memiliki peran pendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

      Konstruktivisme Vygoskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antara individual dan keadaan tersebit dapat disesuaikan oleh tiap individu.

      Menurut teori Konstruktivitas Vygotsy, ada tiga kategori pencapaian siswa teorinya ini,yaitu : 1). Siswa mencapai keberhasilan dengan baik. 2). Siswa mencapai keberhasilan dengan bantua.3). Siswa gagal meraih keberhasilan jika siswa gagal.memecahkan masalahnya.

Baca Juga : Macam - Macam Teori Belajar

      Proses belajar dari pandangan konstruktivisme dan dari aspek - aspek penelitian, peran guru, sarana belajar dan evaluasi pembelajaran ( Budiningsih, 2008 : 58).


1. Proses Belajar konstruktivisme. Konseptual belajar jika dilihat dari pendekatan kognitif, bukan            sebagai perolehan informasi yang masuk dalam satu arah dari luar kedalam pengalaman siswa            melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara besar struktur kognitif. Lebih kegiatan            belajar dalam hal proses daripada hasil.
2. Peran Siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan.
3. Pembentukan harus dilakukan oleh penelitian. Siswa harus secara aktif melakukan kegiatan,                berpikir aktif, penyusunan dan memberi makna pada hal - hal yamg sedang dipelajari. Guru harus      mengambil inisiatif untuk mengatur lingkungan yang optimal yang memnerikan kesempatan untuk      penelitian. Tetapi pada akhirnya yang paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah      niat belajar siswa itu sendiri.
4. Peran Guru. Dalam pendekatan ini peran guru atau pendidik membantu untuk membuat proses            membangun pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang          sudah dimiliki, tetapi untuk membantu siswa membentuk pengetahuannya sendiri.
5. Alat Belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam belajar siswa adalah                  aktifitas membangun pengetahuannya sendiri. Semuanya, seperti bahan, media, peralatan,                    lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.

KELEBIHAN METODE KONSTRUKTIVISME

1. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk                      mengugkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagai              gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2. Memberikan pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau                rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan        mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa        terdoromg untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
3. Memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa          berpikir kreatif, imajinatif,mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gahasan -          gagasan pada saat yang tepat.
4. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk        memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal            maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
5. Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan              mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka
6. Memberikan siswa lingkungam belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan            gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.

KEKURANGAN METODE KONSTRUKTIVISME

1. Siswa membangun pengetahuan mereka sendiri.
2. Memerlukan waktu yang lama dan setiap siswa memiliki pengalaman yang berbeda
3. Situasi dan kondisi masing -masing sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki              fasilitas  dan instruktur yang sama.
LihatTutupKomentar